Bagaimana BCA Menyeimbangkan Likuiditas dan Penyaluran Kredit Secara Tepat

Senin, 12 Januari 2026 | 10:42:41 WIB
Bagaimana BCA Menyeimbangkan Likuiditas dan Penyaluran Kredit Secara Tepat

JAKARTA - PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) menegaskan komitmennya menjaga fungsi intermediasi sekaligus stabilitas likuiditas. Penempatan dana pada Surat Berharga Negara (SBN) dilakukan secara terukur sebagai bagian dari manajemen likuiditas yang hati-hati.

Langkah ini sejalan dengan pertumbuhan kredit yang tetap solid, meski sebagian dana dialokasikan untuk instrumen surat berharga. BCA memastikan bahwa langkah ini tidak mengurangi kemampuan perbankan dalam menyalurkan kredit ke sektor riil.

Fokus Utama BCA Tetap Pada Penyaluran Kredit

EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA, Hera F. Haryn, menekankan bahwa fungsi utama perbankan tetap sebagai lembaga intermediasi. Penyaluran kredit ke sektor riil menjadi prioritas utama meski terjadi penempatan dana di SBN dan instrumen lainnya.

Hingga November 2025, kredit BCA secara bank only tercatat mencapai Rp921 triliun. Angka ini menunjukkan bahwa ekspansi kredit tetap berjalan sehat meskipun sebagian dana dialokasikan untuk likuiditas dan investasi jangka pendek.

Komposisi Penempatan Dana dan Peran Stabilitas Sistem Keuangan

Per November 2025, BCA menempatkan dana sebesar Rp436 triliun pada instrumen surat berharga. Komposisi terbesar terdapat pada obligasi pemerintah, diikuti Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan instrumen lain sebagai bagian dari strategi manajemen risiko.

Menurut Hera, penempatan dana pada surat berharga juga mencerminkan peran aktif perbankan dalam mendukung pembiayaan negara. Selain itu, langkah ini menjaga stabilitas sistem keuangan nasional melalui pengelolaan likuiditas yang prudent.

Data Kepemilikan Bank di SBN dan SRBI

Data Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan menunjukkan peningkatan kepemilikan bank di SBN. Hingga 8 Januari 2026, total kepemilikan bank di SBN mencapai Rp1.397,68 triliun, naik dari Rp1.326,33 triliun pada 2 Januari 2026.

Sementara itu, Bank Indonesia mencatat kepemilikan bank di Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) sebesar Rp618 triliun per November 2025. Hal ini menunjukkan masih adanya ruang likuiditas yang dapat dimanfaatkan untuk penyaluran kredit atau investasi jangka pendek.

Ruang Likuiditas Belum Terserap Sepenuhnya

Data BI mencatat undisbursed loan perbankan mencapai Rp2.509,4 triliun, atau setara 23,18% dari total plafon kredit tersedia. Artinya, terdapat sisa kapasitas likuiditas yang belum sepenuhnya terserap untuk penyaluran kredit ke sektor riil.

Fakta ini menegaskan bahwa penempatan dana pada SBN dan SRBI bukan karena keterbatasan likuiditas, melainkan strategi manajemen risiko yang prudent. Bank tetap menjaga keseimbangan antara kecukupan likuiditas dan ekspansi kredit yang sehat.

Keseimbangan Antara Likuiditas dan Risiko Kredit

Hera F. Haryn menegaskan, BCA senantiasa mengelola likuiditas secara hati-hati sesuai prinsip kehati-hatian. Penempatan dana pada surat berharga dilakukan agar bank tetap memiliki cadangan likuiditas yang memadai sekaligus mengurangi risiko keuangan.

Strategi ini juga memastikan BCA tetap mampu memenuhi permintaan kredit dari sektor riil. Dengan demikian, peran BCA sebagai lembaga intermediasi tidak terganggu, sekaligus mendukung stabilitas ekonomi nasional.

Strategi BCA Tetap Sehat dan Berimbang

Langkah BCA menempatkan dana pada SBN dan SRBI menunjukkan manajemen likuiditas yang prudensial. Bank tetap menyalurkan kredit secara sehat, sambil menjaga likuiditas dan mendukung stabilitas sistem keuangan.

Pergerakan ini menegaskan peran perbankan sebagai lembaga intermediasi sekaligus instrumen stabilisasi ekonomi. Dengan strategi ini, BCA mampu menyeimbangkan risiko dan peluang investasi dengan kebutuhan kredit di sektor riil.

BCA membuktikan bahwa penempatan dana di surat berharga tidak mengurangi fokus pada kredit ke sektor riil. Strategi ini sekaligus menjadi contoh manajemen likuiditas dan risiko yang bijaksana di tengah dinamika perbankan nasional.

Terkini